Pasca Pascasarjana

Akhirnya pekan sidang sudah selesai. Puji Tuhan hasilnya lulus walaupun saya babak belur dan  banyak revisi, hehe.

Rasanya sangat lega sekali, beban yang selama ini menghimpit saya selama 2 tahun akhirnya terlepas. Banyak kejadian buruk dibelakangnya mulai dari menghabiskan waktu bermain – main, bertemu orang – orang tidak baik di hidup saya dan masih banyak lagi. Ada juga orang – orang yang baik. Pokoknya setelah kejadian ini terlewat saya sudah menjadi lebih pandai melihat mana orang yang berharga dan tidak untuk diperjuangkan sebagai kawan. Saya sempat menjadi orang yang tidak baik juga, menjadi pribadi awut – awutan dan tidak bisa dipercaya (manusia galau katanya). Yah, saya sedikit lebih banyak mengenal diri saya lebih dalam. Tapi terlepas itu, saya pikir saya berkembang menjadi manusia yang lebih berpengalaman. Tadinya mau bilang manusia yang lebih baik, tapi rasanya belum bisa sampai terdefinsi seperti itu.

Baiklah, waktunya bersenang – senang pikir saya setelah selesai sidang. Eh, tapi ternyata hutang yang saya tinggalkan cukup banyak. Mulai dari kegiatan saya off kan seluruhnya di ITHB (saya mesti bayar undangan menguji, dsb). Mulai dari bisnis yang terbengkalai dan baru merasakan bagaimana rasanya merugi hehe, tapi tidak apalah daripada untung tapi uangnya dipakai begitu saja sama orang yang cukup bobrok moralnya (Oops curcol). Pokoknya saya mesti membayar hutang kerjaan yang tertinggal dulu.. hehe

Tapi saya sempet menonton juga akhirnya, sebuah opera sabun jadul yang berjudul Cinta Paulina, mungkin detailnya akan saya ceritakan setelah tulisan ini. Intinya, saya pengen sekali bisa membuat cerita novel yang penuh intrik seperti itu. Bisakah? Semoga bisa ya.

paula-dan-paulina

Habis aku lulus…

Beberapa minggu terakhir atau tepatnya satu tahun belakangan ini, ngerasa hidup penuh drama.

Banyak yang mesti dipikirin, akhirnya tesis dikesampingkan, sehingga harus ngebut di akhir.

Selama beberapa minggu terakhir aku dan teman – teman selalu berandai – andai.. “Habis kita lulus nanti..”

Misalnya, mau rencana jalan – jalan. Udah atur rencana, ujung – ujungnya pasti “habis lulus nanti ya!” hahaha..

Setiap malam habiskan waktu di ruang diskusi s2 atau penunggu terakhir lab Gaib. Luar biasa.

Tidur kadang iya, kadang engga.

Jadi ansos juga iya.

Besok aku sidang… semoga lancar, supaya daftar “habis aku lulus..” bisa mulai aku kerjain satu persatu :’)

Hidup itu apa

Sudah lama sekali tidak menulis, ratusan kalender sudah terobek dan ku buang..

Dulu aku semangat sekali menulis, seorang yang sangat percaya diri dapat mengejar ambisi – ambisi..

“Time will tell” menggema disetiap detik, merasa semakin hari terpuruk dan hilang arah..

Ah, mungkin ini masa tersulit yang pernah kulalui? tidak mungkin, aku yakin pasti lebih banyak lagi ke depannya yang lebih buruk.

Kembali ke kutipan “Time will tell” , no it’s not. Aku gak suka apa yang dikatannya..

Ah, tidak ada gunanya mengeluh, toh semua salahku. Salah langkah benakku.

Sumbu itu sudah terkubur tumpukan salju yang tebal, jikalau seseorang dapat menggali dan menemukannya, orang itu butuh sinar matahari untuk mengeringkan sumbu yang basah.

Ah, orang lain? kenapa orang lain mau mencari sumbu-mu? harusnya aku sendiri yang mencari, aku sendiri yang mengeringkan..

Benakku berkata, kapan semua berjalan dengan baik dan bahagia? Apasih arti baik dan bahagia, “bersyukur”? tapi kita manusia, punya ambisi.

Ah, mungkin aku hanya seorang yang tak bisa bersyukur..

Kalau hidup ini seperti larik yang statik, tapi aku belum tahu ujungnya jadi aku jalan saja terus untuk menemukan ujungnya. Kerjaku hanya mengisi kotak – kotak larik tersebut, memikikan kotak di depan harus ku isi dengan apa? atau apakah aku mengisi kotak sebelumnya dengan benar..

Ah, sudahlah tak penting juga, lebih baik aku memikirkan kotak yang sedang ku duduki saat ini

Huft, helaan nafas panjang semakin sering terhembus. Hidup itu apa?

Ah, ternyata aku masih bodoh belum bisa menjawabnya. Mungkin kalau aku sudah sampai diujung larik baru ku tahu 🙂

CLBK (12) – Finale

Prev : 12, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11

“Memori…

Indah, mungkinkah bisa terulang lagi…

Memiliki, namun tidak bisa dimiliki….

Jika begitu, haruskan aku masih menyebutnya indah?

Ya Tuhan.. Jika dirinya hanya dapat menjadi memori, mengapa sosoknya terus saja terbangun megah dalam hatiku…

Mengapa di kala semuanya berubah, memori tentangnya tak bisa ikut berubah terhapus waktu…

Oh Tuhan.. mengapa kerinduan itu terus menarik-ku dalam perih…”

-Faris

Dasi merah telah melingkar di leher kemeja Faris. Potongan jas rapi telah terpasang. Kini Faris siap untuk pergi. Sepersekian detik sesaat dirinya termenung, memutar ulang apa yang telah terjadi semenjak kedatangan Niken.

-Sesampainya di dalam mobil-

Pandangan Faris kosong, termenung. Bagaimana tidak, hari ini adalah akhir dari penantian harapannya. Perlahan Ia menjalankan mobil, melesat menerobos jalanan, kelap kelip lampu menghiasi malam itu.

Tidak lama kemudian dirinya sampai di sebuah gedung yang telah ramai dengan para tamu.

Ketika Faris masuk ke dalam gedung, pandangannya langsung tertuju pada gadis cantik yang menggunakan gaun serba putih.

Faris : “Cantik banget.”  *Dalam hati. Sesaat dirinya bengong mematung.*

Kemudian Faris berjalan mendekati Niken. Setiap langkah, pandangan matanya hanya untuk gadis itu. Sebaliknya, Niken malah tidak menyadari ada seorang pria yang sedang datang mendekat ke arahnya. Sama seperti hari – hari sebelumnya, gadis itu tidak pernah menyadari ada seorang pria yang selalu memandangnya dari jauh.

Faris : “Selamat ya.” Sebuket mawar merah disodorkan Faris untuk gadis yang akhirnya memandangnya juga. Senyuman terukir di wajah mereka.

Niken : “Makasih. Bunganya cantik”

Faris : “Gak, secantik kamu.”

Senyuman kembali tersimpul di wajah Niken. Faris menatap kedua mata Niken dengan sangat dalam. Sama seperti dalam hatinya menyimpan perasaan yang dalam untuk gadis itu.

Terkadang Ia berpikir, seluruh rasa sakit atas penantian panjang yang ia tanggung selama ini telah terbayar dengan melihat senyuman gadis yang Ia sayangi.

Faris  : “Niken…” Menyodorkan sebuah kotak berisi cincin.

Seketika tingkah Faris mengubah wajah tersenyum Niken menjadi berubah kaget.

Niken : “Kamu…”

Faris : “Iya aku masih simpen, kamu masih mau pakai cincin ini ga… untuk kedua kalinya.” Kembali Niken tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dengan lembut Faris meraih tangan Niken dan memasangkan cincin itu.

Masih kental ingatan Niken tentang cincin itu. Cincin itu diberikan Faris dulu kala, pada tahun pertama mereka berpacaran. Kala itu, Faris mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit untuk membeli cincin itu.

Kini cincin itu kembali melingkar di jari manis milik Niken. Satu – satu nya cincin yang ada diantara jari Niken. Rasa haru tersirat dalam tatapan Niken kepada Faris.

Faris : “Kalau kamu liatin aku terus kayak gitu nanti aku overdosis sama cantiknya kamu sebelum kencan kita beres.”

Mendengar hal itu, mereka kembali tertawa dan masih banyak lagi tawa yang terdengar malam itu. Tangan Faris terus menggenggam tangan Niken, kemudian Faris mencium tangan Niken yang Ia genggam sedari tadi tanpa mempedulikan keramaian dalam restoran itu.

Niken hanya terdiam tanpa berkata apapun. Mukanya sedikit memerah namun senyumnya masih menghiasi wajahnya. Selintas dirinya mengingat Robbin. Terimakasih kepada Robbin, yang telah rela mengabulkan keinginan Niken untuk melepaskannya.

Faris : “Aku ga mau kehilangan kamu lagi.”


END


CLBK (11)

Prev : 12, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10

*Kamar Faris*

Faris terbaring di atas tempat tidur. Rasa sakit yang Ia rasakan memaksa air mata yang sudah bertahun – tahun tidak pernah diteteskan mengalir. Setetes air jatuh di pelupuk matanya. Hari ini yang seharusnya menjadi bahagia berubah menjadi kesedihan.

Undagan itu terus membayang dalam pikirannya. Hari ini seluruh pertanyaannya selama ini terjawab. Mengapa Niken menyembunyikan tentang dirinya saat pertama kali bertemu atau Mengapa Niken tidak pernah menyinggung soal kehidupan pribadinya dalam pesan – pesan BBM. Seluruhnya terjawab saat dirinya melihat undangan itu.

Faris hanya termenung menyadari dirinya telah kehilangan kesempatan bersama Niken, ketika dirinya melangkah ke dalam lift siang itu, seorang diri. Meninggalkan Niken dan Robbin, berpura – pura seperti tidak terjadi sesuatu.


*Apartment Niken.*

Niken duduk memojok. Matanya sembab. Dirinya kini merasa sangat hina dan sangat bersalah karena telah menyakiti Faris… dan Robbin. Namun dari semua itu dirinya bertanya, mengapa hatinya sangat sakit ketika Faris meninggalkannya di depan lift sore itu. Mengapa melihat wajah tersenyum Faris sore itu terasa sangat menyakitkan.

Perasaan cinta kepada Faris yang terus ia sangkal selama ini, sudah tidak bisa dihindari kembali. Ternyata Faris bukanlah sebuah pelarian, bukan juga sebuah bayangan. Faris adalah orang itu “the one”, yang selalu bisa membuat dirinya kembali jatuh cinta padanya.  Kembali air mata menetes jatuh melewati pipi Niken.

Wajah Faris yang memancarkan kesedihan terus membayang dalam pikiran Niken menyadari dirinya telah kehilangan kesempatan bersama Faris, ketika dirinya membiarkan pemuda itu melangkah dan meninggalkan nya ke dalam lift.


*Ruangan Kantor Robbin.*

Sudah beberapa jam dilalui Robbin memandang tumpukan kertas yang berada di atas mejanya.

Niken mengisi pikirannya. Sudah lama dirinya menyadari kehampaan dalam diri Niken. Niken yang Ia kenal dulu sudah tidak ada, mahasiswa ceria yang Ia temui ketika Ia melanjutkan kuliah master-nya di German.

Sudah beberapa kali Niken meminta untuk mengakhiri hubungan ini, namun tidak pernah Ia turuti. Berbagai cara yang ia lakukan memang berhasil untuk membuat hubungan itu bertahan. Namun tidak untuk mengembalikan hati Niken kepadanya. Kesalahan yang Ia lakukan beberapa waktu lalu. Sebuah perselingkuhan.

Tidak jarang Ia memikirkan apalagi yang harus ia lakukan untuk merebut kembali hatinya. Gadis itu, gadis yang sangat berharga buatnya. Menyakitinya adalah penyesalan yang terdalam baginya.

Robbin dalam hati : “Gue ga bisa kehilangan Niken.”


Arti Sebuah Lagu

Muncul sebuah pertanyaan, sebenarnya apa arti sebuah lagu?

Bukan arti secara harafiah yang terdapat dalam lirik dari lagu tersebut, tapi arti secara khusus bagi hidup.

Bagi saya, arti sebuah lagu itu diibaratkan seperti “checkpoint”, maksudnya hanya dengan mendengar sepenggal dari sebuah lagu bisa membawa pikiran saya ke masa lalu, ke kenangan masa lalu.

Seperti lagu Adele – Set On Fire.. jika saya mendengarkan lagu itu.. maka pikiran saya akan melayang dan tertarik kembali pada memori saya melakukan kerja praktrik di tahun 2012. Karena dulu hampir setiap hari saya dengerin lagu itu.

Atau lagu The Passenger yang berjudul Let Her Go, Cukup dengan mendengar intro musiknya saja sudah membuat saya teringat sebuah kejadian.. dimana untuk pertama kali saya meneteskan air mata di sebuah restoran umum dan seorang diri. Karena waktu itu, restoran tersebut memutarkan lagu itu disaat yang berbarengan saya menerima pesan kalau kalau saya telah kehilangan orang yang sangat saya cintai. *Curcol masa lalu*

Lagu juga bisa menjadi representasi keadaan perasaan. Ada kalanya saya hanya ingin mendengar lagu dengan nada slow atau melow. Ada kalanya, saya tidak mau mendengar lagu yang bernada melow karena takut akan merusak mood yang sedang bagus.

Saya lagi senang dengan lagu Monty – Tiwa yang berjudul “Kosong”.. Liriknya seperti berbicara kepada saya.. ada sepenggal lirik pembuka yang saya sukai “Pernahkah kau merasa tidak pernah merasa sunyi..?”

Selain lagu Monty Tiwa yang itu, saya juga suka lagunya yang berjudul “Mencintaimu”.. Kembali lagi lirik lagu itu seperti berbicara kepada saya.. “Aku Mencintaimu Seperti Pecandu yang Cinta Sabu..”

Terus.. satu hal lagi yang ajaib.. Lagu bisa menebak apakah anda sendang jatuh cinta atau tidak.. Contohnya penggalan lagu tadi.. “Aku Mencintaimu Seperti Pecandu yang Cinta Sabu..” Jika sekiranya saat kita meresapi lagu itu dalam pikiran kita terbayang seseorang, mungkin bisa jadi bahwa itu adalah indikasi bahwa anda menyayangi orang itu atau setidaknya merindukan orang yang pernah anda sayangi.

Kalau dipikir – pikir ajaib juga.. 🙂

CLBK (10)

Prev : 12, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

Jumat pagi, Faris bangun lebih awal untuk datang ke kantor. Hari ini Faris berpakaian sangat berbeda dari biasanya, lebih rapi dan harum. Terlihat lebih tampan, begitu pikirnya.

Assa : “Bro, rapi banget hari ini. kencan yaaaa”. Sapa Assa kepada Faris yang baru saja duduk.

Faris : *Hanya senyum2, sambil menepuk pundak Assa*

Assa : “Ehh, malah senyum – senyum sendiri.. hahahha.. sama siapa sih?”

Faris : “Mau tau aja lu” *sambil tetep senyum*

Assa : “Kasih tau ga, kalau ga gue teriak nih biar satu ruangan pada tau.. ” bersiap – siap untuk berteriak.

Faris : “eh jangan!” *Membungkam mulut Assa dengan tangannya, khawatir Assa akan berteriak beneran, pasalnya Niken sedang ada di ruangan itu.”

Assa : “Sipaa?”

Faris : *Memeberikan isyarat untuk melihat ke arah Niken.*

Assa : “Hahh.. beneran?” sedikit kencang

Faris : “Ssst….!”

Assa : “Dia kan udah punya cowo Ris!”

Faris : “Kan itu masih gosip. Biar gw clear-in hari ini, tar gw tanyain bener2 ke dia.”

Sudah 4 bulan berlalu semenjak Faris diangkat menjadi Manager di kantornya. Semua pekerjaan berjalan dengan lancar, begitu juga hubungannya dengan Niken. Mereka sudah amat dekat, hampir setiap hari mereka saling menukar pesan via BBM dan hari ini untuk pertama kalinya, mereka berencana menghabiskan waktu makan malam bersama.

Hari ini Faris dan Niken berpapasan beberapa kali di jalan, di lift, atau di pantry, tetapi mereka mereka tidak saling bicara, hanya saling melempar lirikan dan senyuman saja. Faris sudah tidak sabar untuk menunggu malam, membayangkannya saja sudah membuat dirinya tersenyum – senyum sendiri. Kadang Ia merasa aneh, ini bukan kali pertama Ia berkencan dengan Niken, waktu masa SMA hampir setiap sepulang sekolah mereka selalu jalan bersama, tapi tetap saja kali ini rasanya ada sesuatu yang membuat hatinya berdebar lebih kencang. Teringat waktu dulu, kata – kata terakhir Niken sebelum mereka berpisah : “Kalau memang jodoh, pasti nanti bertemu lagi.”… Ahh.. Faris sudah kayak orang gila saja, dari tadi senyum – senyum sendiri!

Akhirnya malampun tiba, Niken dan Faris bersiap – siap menuju parkiran kantor (mereka memang janjian bertemu disana). Tetapi ternyata mereka berpapasan terlebih dulu di depan lift dan akhirnya menunggu lift bersama. Walaupun hanya berdua saja, masih tidak ada kata – kata yang terucap diatara mereka, hanya sebatas senyum dan tatapan yang dalam satu sama lain.

*tiba – tiba.. dari kejauhan*

Pa Bos : “Niken..!” *Faris dan Niken menoleh.”

Pa Bos : “Niken saya mau bicara sama kamu.” Menoleh kearah Faris  *Eh Ris, baru mau balik ya…”

Faris  : “Iya, Bapak sendiri belum pulang?”

Pa Bos : “Bentar lagi pulang, ngurusin ini dulu.” *Sambil mengeluarkan sesuatu..*

Pa Bos : “Gimana Niken.. undangan kita udah oke belum.” *Menyodorkan sebuah undangan bertuliskan ‘The Wedding – Robbin & Niken'”

-Bersambung