Hujan (3)

Hujan Part 1, 2, 3

“Aku ingin seperti hujan, yang memberi kehidupan ditanah yang kering.

Aku ingin seperti hujan, yang menyejukan dikala terik.

Aku ingin seperti hujan, membelaimu dengan lembut hingga kau tidak menyadari bahwa kau telah tenggelam disisiku.”

Dari kejauhan aku melihat pemuda itu tidak bergerak sedari tadi, seolah dirinya telah terhisap dalam keindahan mendalam dari gadis yang berdiri di depannya. Tatapan matanya begitu mendalam ketika Ia melihat gadis itu. Bola matanya berbinar dan lirikan matanya teduh. Pancaran matanya memantulkan kemegahan yang agung, seolah gadis yang Ia pandang adalah satu – satunya orang dalam alam semestanya.

“Aku gak bisa berhenti mikirin kamu.” Suara berat yang parau terdengear lembut ditelinga gadis itu. Membuat gadis itu tak kuasa tersenyum dan memeluk pemuda yang ada didepannya.

Seisi ruanganpun terkesima melihat pemandangan yang sangat menghenyakan hati.  Sepersekian menit kemudian, seisi ruangan bertepuk tangan. Ya, pertunjukan drama untuk pentas seni disekolahku baru saja dilaksanakan. Rumi menjadi pangeran yang menyelamatkan seorang putri yang terjebak dalam castle. Sedangkan pemeran putrinya adalah Nabila, gadis yang sangat cantik, kabarnya mereka berdua memang berpacaran. Oh ya, aku juga ikut berpartisipasi dalam acara ini, tidak sebagai seorang actor sih, hanya sekedar stuff. Tugasku, mendesign berbagai gambar latar belakang yang diperlukan bersama Yuta.

Jam masih menunjukan pukul sebelas siang, seluruh penonton tadi mulai meninggalkan ruangan satu – persatu. Banyak stand dan pertunjukan diruang auditorium. Para pemeran sedang beganti pakaian di ruangan belakang panggung dan stuff mulai membersihkan panggung. Sebaliknya, aku sendiri sedang membereskan barang – barang yang ada diruang belakang. Tidak sengaja aku melihat sebuah kunci dengan bandul clay yang sangat cantik, bentuknya unicorn putih dengan rambut pelangi. Ah, cantiknya pikirku. Cukup lama aku memandangi unicorn tersebut, ingin rasanya aku menggambar ini dalam buku sketsaku. Aku bertanya – tanya siapakah yang meninggalkan kunci ini.

*Puk, puk* tiba – tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Ternyata Nabila, gadis itu menyodorkan tanyanya samnil melirik Unicorn ditanganku. Oh punyanya pikirku, maka tanpa berkata apapun aku memberikan kunci tersebut. Baru saja aku ingin berbicara, Nabila berputar dan pergi. Ah, mana mungkin dia mengenalku, aku hanya gadis biasa.

Aku kembali merapikan barang – barang berserakan disekitarku. Namun, baru beberapa langkah Nabila yang hendak keluar tiba – tiba Rumi datang, terengah – engah. Seperti habis berlari.

“Kunci.” Kata pemuda itu, berdiri dihadapan Rumi. “Kunci gw ketinggalan.”

“Ini, tadi aku liat dipegang – pegang cewek itu. Untung gak diambil” Kemudian Nabila memberikan kunci itu, Rumi mengambilnya dari genggaman Nabila. Aku merasa, muka Rumi terlihat jijik melihat Nabila.

Tanpa mengucapkan terimakasih, Rumi melewati Nabila begitusaja. Tapi kok dia menuju kearahku?

“Makasih sayang udah simpen kunci aku.” Kemudian Rumi mencium pipiku.

“Hah! Maksudnya?”

-Bersambung-

Hujan Part 1, 2, 3

 

 

 

Iklan

Mommy

Mommy, i love you.Like, i really really love you.
You are the sweetest person i ever met in this whole world.
The kindest, the cutest and..
the prettiest, well after Baekhyun or Jungkook.

I adore you, you are my inspiration.
I don’t wanna hurt you.
I want to be like you someday.
I want make you happy and proud.

I love to hear you talk, well sometimes you are scary too, but it’s okay, i know you love me.
Mm, i’m sorry sometimes i become a crybaby when you mad at me.
And i’m sorry sometimes (or almost of all the time) being spoiled and childish.

I love holding your arm, because i feel save.
I love holding your hand, because it’s feel so warm.

you are my hero.

Hujan (2)

Aku buru – buru memeriksa buku sketsa itu, apakah ada yang memalukan atau tidak.

Hampir semua buku sketsa ku berisi hal – hal yang menurut aku indah. Salah satunya Rumi, dirinya muncul dua kali di dalam bukuku. Yang pertama, saat dia bermain gitar di Pentas Seni January lalu. Dan yang kedua, saat dia duduk di bis sedang memandang matahari dari jendela itu, pantulan cahaya matahari yang masuk menerangi setiap lekukan wajahnya seolah bergerak. Tapi sketsa itu belum selesai, hanya bagian kepalanya saja sisanya tidak sempat aku ingat. Hehe, konyol pikirku.

Apakah aku menyukai dia? Tidak juga. Bagiku dia sekedar objek indah yang ku kagumi melalui kacamata kotakku. Ah, tapi bagaimana jika dia sempat melihat sketsaku ini dan berpikir kalau aku jatuh cinta dengannya. Ah sudahlah, buat apa mempersulit diri dengan memikirkan hal konyol, kalaupun dia berpikir aku suka dia memangnya kenapa, pasti banyak sekali yang suka dia. Pasti bukan hal yang aneh kan baginya.

Aku meletakan buku itu di atas meja, dan kemudian kembali berniat pergi ke kantin. Hera sepertinya sudah tidak sabar. Kelaparan.

“Cepet dong.” Protesnya.

Sesampainya dikantin benar saja tempat itu sudah sangat amat ramai. Kami berdua bingung duduk dimana. Celingak celinguk menerawang kali saja ada tempat kosong buat kami, kemudian seseorang melambaikan tangannya kearah kami.

“Yuta!” Teriak Hera senang, kemudian kami mendatangi bangku yang sudah disiapkan pemuda itu.

“Terimakasih” Aku mengucapkan terimakasih kepada Yuta.

“Sa-ma, Sa-ma” Yuta membalasnya dengan menggunakan sign language. Ya, Yuta tidak bisa berbicara.

Dia adalah temanku dikelas yang berbeda, dialah yang pertama kali mengajarkanku bagaimana cara menggambar ketika kami masih duduk dibangku SMP.

Jika orang – orang melihat karya Yuta, mereka akan terkagum takjub. Yuta adalah salah satu kebanggan sekolahku, sudah banyak memenangi berbagai lomba.

Dia adalah “kesunyian yang indah” dimataku. Sayangnya, dia tidak sepercaya diri itu. Yuta lebih suka menyendiri, minder katanya dengan kekurangan yang Ia miliki. Padahal, Ia sempurna.

Kami menghabiskan istirahat siang itu, dengan gembira. Ya, seperti normalnya anak – anak SMA. Ya, kami adalah tiga orang anak SMA biasa.

Setelah kami selesai jajan dan beristirahat dikantin, aku dan Hera balik kembali menuju kelas. Di dalam perjalanan kami berbincang – bincang santai.

“Tadi kenapa buku sketsa kamu ada di Rumi?” Tanya Hera.

“Mungkin jatuh di bis waktu berangkat pagi tadi.” Balasku.

Hera mengangguk, dia tau rumahku tidak jauh dari rumah Rumi. Dia juga tahu bahwa aku dan Rumi sering berbagi bis yang sama. Tak lama dari itu kami tiba dikelas dan akupun kembali duduk dimejaku.

Tapi, kok buku sketsaku tidak ada di atas mejaku. Perasaan aku tadi meletakannya disini. Aku mulai panik.

“Kemana buku itu!” Pikirku dalam hati.

(Bersambung..)

Hujan

Aku suka sekali hujan, suaranya gemericik memantulkan ke sunyian.

Saat hujan tiba suara berisik berubah hanya menjadi suara hujan. Ya, irama hujan.

Jam sudah menunjukan pukul 6.20, aku bersiap berangkat sekolah. Ibuku dan Ayah sudah tidak ada dirumah pergi bekerja.

Aku anak tunggal, tinggal bersama orang tuaku. Kedua orang tuaku sibuk bekerja. Singkat cerita, aku kesepian.

Disekolahpun aku anak yang cukup pendiam, bicara seperlunya saja.

Pagi itu hujan, aku menuju ke halte dekat rumahku menggunakan payung. Tidak lupa menggunakan jaketku, aku tidak ingin bajuku basah kuyup terkena cipratan hujan.

Halte terlihat ramai, walaupun hujan. Aku mengenal salah satu orang yang sedang berdiri disitu. Seorang anak laki – laki, menggunakan seragam yang sama denganku, namanya Rumi.

Dia tidak satu kelas denganku sih, tapi aku tahu dia. Rumi adalah salah satu anak paling popular disekolahku, dia super pintar, wajahnya tampan dan senyumnya manis. Kebalikannya, aku bukan anak yang popular ataupun anak yang super pintar. Hanya seorang remaja SMA biasa. Mungkin Rumi tidak mengenalku.

Tidak jarang aku bertemu Rumi di halte atau bus, karena memang rumah dia tidak jauh dengan rumahku. Tapi tak pernah sekalipun kami bertegur sapa, atau berbalas senyum.

Jam, sudah menujukan pukul 6.30 sebentar lagi bis datang pikirku. Benar saja, Bus damri datang perlahan didepan halte. semua orang berbondong masuk mencari kursi kosong begitupun aku.

Dan, astaga, satu – satunya kursi kosong adalah disampin pemuda itu, Rumi.

Rumi, duduk disamping jendela, karena itu satu – satunya kursi yang tersisa aku terpaksa duduk disampingnya. Entah mengapa aku tersipu malu. Ini baru kali petama. Walaupun dia tidak menoleh, jantungku berdegup. Rumi, sangat harum itu yang paling aku ingat.

Tepat pukul 6.50 bus tersebut berhenti dihalte dekat sekolahku. aku seketika kabur menuju pintu, bahkan sebelum bis berhenti. Aku tidak kuat menahan kikuknya duduk disamping Rumi. Hingga aku tiba dikelaspun aku masih merasa kikuk. aneh pikirku. aku kok lebay banget, padahal cuma duduk gitu aja.

Jam pelajaran satu persatu aku lewatkan. Hingga tiba saat istirahat. Aku bersiap – siap pergi ke kantin bersama Herastia, kawanku satu – satunya dikelas ini.

*puk – puk* tiba – tiba ada yang menoel pundaku, ketika aku keluar pintu kelas. Aku pun menoleh, RUMI!

Rumi : “punya kamu ketinggalan, di bis.”

Kemudian Rumi menyerahkan buku sketsaku. Aku masih terkaget menerimanya, tanpa sempat aku mengucapkan terimakasih, dia pergi.

Hah, Rumi berarti mengenalku? Kok dia bisa tahu aku ada dikelas ini.

Astaga! di dalam buku itu, aku mengambar beberapa sketsa tentang dirinya. Duh malu bangett pikirku. “dia lihat tidak ya!!

Seketika itu, hampir setengah wanita dikelasku memandang curiga kepadaku. (Bersambung..)

Gelap

Hai, taukah kamu.. kamu begitu terang menghiasi ruang gelap dihatiku.

Aku seseorang yang nyaman dalam kegelapan. Ya, sebelum bertemu denganmu.

Aneh, aku selalu ingin terlihat kuat. Menunjukan betapa kuatnya sisi gelap ini. Melahap setiap apapun yang ada di depanku.

Dan seketika aku gagal, jika itu kamu yang aku hadapi.

Aku lemah didepanmu, menjadi tak berdaya.

Sepertinya aku terhipnotis oleh cahayamu, sedikitpun aku tunduk padamu.

Wah, apa yang kau lakukan? Bisa – bisanya gelap yang aku cintai dan banggakan terasa seperti meluluh.

Gelap yang selalu ku rindukan dan ku jaga dengan baik kini berubah tak berdaya.

Aku tidak merindukan gelap itu lagi. Tolong tetap disini untuk bersinar selamanya dalam gelapku.

Bahagia

Menurut pendapat saya,

Kesalahan banyak orang adalah, mereka seolah paling mengerti kebahagian seseorang bahkan melebihi dari orang itu sendiri.

Coba berkaca, apakah anda salah satunya? Saya? Tentu saja pernah.

Berbenah diri, sudah pasti. Mengapa? Karena seperti terantuk batu, saya sadar bahwa diperlakukan seperti itu sakit.

Sebagai contoh kecilnya saja,

Pernahkah seorang kawan, sedang bercerita padamu dan kemudian dirimu memaksa kawanmu untuk melakukan hal yang sebenarnya dia enggan lakukan.

“Putusin aja”, “ngapain kerja disitu?”, “ngapain begini..?”, “ngapain begitu..?”, “menikah aja ama si itu!”, “kuliah jurusan ini aja..”

Ketika kita melontarkan banyak pertanyaan memojokan bahkan suruhan egois kepada orang lain. Pernahkah berpikir, bahwa kata – kata itu menyakitkan pihak lain?

Siapa tahu, mereka itu bahagia dengan kondisi yang mereka jalani saat ini. Lantas atas dasar apa kita menghakimi?

Sayang? Takut mereka terluka?

Pembenaran akan selalu ada. Banyak diantara kita mencari secerca alasan yang alih – alih menurut kita paling benar. Padahal belum tentu.

Memberikan masukkan boleh, tapi budayakanlah untuk jangan memaksakan pendapat. Kenapa?

Karena, bagaimana jikalau ternyata mereka memiliki alasan kuat mengapa mereka bertahan.

Atau mereka memiliki sebuah trauma yang sangat amat menyeramkan sehingga apa yang mereka kerjakan hari ini, alhasil pembentukan jati diri itu.

Janganlah sampai, mereka tidak nyaman dengan anda. Ujung – ujungnya malah jadi tertutup.

Jangan sampai, mereka melakukan hal yang sebenernya tidak membuat mereka bahagia. Ujung- ujungnya mereka tersakiti lebih dalam.

Senyum Pertama

Aku suka melihat senyumnya,

Entah ini senyuman keberapa yang aku lihat, tapi senyuman inilah yang paling aku ingat darinya..

Suatu ketika, dia berjalan, kemudian seketika berbalik dan tersenyum. Aku suka.

Suatu ketika, dia duduk didepanku, kemudian senyuman pertama itu ku lihat.

Aku suka caranya tersenyum, sorotan matanya ketika Ia tersenyum adalah bagian kesukaanku.

Matanya indah.

 

Suatu ketika, aku harus pergi, tidak lagi melihat senyummu dalam waktu lama.

Suatu ketika, aku melupakanmu, ya entah pikiran bodoh macam apa yang menyerang.

Membuatku heran, mengapa bisa membuatku teralihkan dari sempurnamu.

Suatu ketika, aku kembali lagi bertemu denganmu, tanpa kata kau tersenyum dari kejauhan.

Ah, rasanya aku mengenal senyuman itu!

Ya, sama halnya seperti Senyuman pertama, aku kembali jatuh cinta padamu.

 

140328_2ny_3.jpg