Pengakuan terhadap Aksi

confession

Saya bertanya – Tanya. Seberapa penting sebuah pengakuan bagi seseorang dan sejauh apa pengakuan yang orang dapat berikan kepada orang lain. Berawal dari diri saya, dan saya hanya akan menuliskan pandangan saya terhadap apa yang saya pikirkan mengenai pengakuan yang orang lain berikan kepada orang lain, khususnya saya.

Tidak saya pungkiri, saya tipe orang yang tidak mudah percaya. Sekalipun semua telah nampak didepan mata saya, saya masih akan terus bertanya “sudahkah ini benar terjadi seperti apa yang benar – benar saya pikirkan?” Menurut saya, tanpa adanya sebuah pengakuan, saya belum merasakan sebuah kepastian yang absolut. Banyak hal yang sering diperdebatkan antara lebih penting mana aksi atau perkataan, faktanya banyak yang memilih bahwa aksi lebih penting dari perkataan, saya setuju juga dengan pilihan itu tapi tidak sepenuhnya.

Aksi tanpa perkataan akan hanya menimbulkan sebuah pertanyaan atau praduga (setidaknya begitu buat saya). Ketika saya mendengar pengakuan, baru saya akan merasa tenang selagi saya menikmati dan menjalani aksi. Perkataan tanpa aksi memang sudah benar sangat menyebalkan, tetapi aksi tanpa kepastian tak kalah menyebalkan. Sebenarnya pemikiran ini terlintas, karena saya benar – benar tidak merasa nyaman dilingkungan yang tidak bisa menghargai aksi saya dengan pengakuan. Tapi ini bukan sama sekali bermaksud bahwa saya melakukan aksi hanya untuk pengakuan, dari salah satu buku yang John Maxwell yang pernah saya baca, saya selalu dibimbing jangan melakukan sesuatu agar dapat membuat orang lain terkesan, lakukanlah sesuatu yang sesuai dengan tujuan hidupmu dan saya sedang mencoba menerapkan hal itu. Maksud konteks saya disini dari “Pengakuan terhadap Aksi” adalah ketika saya melakukan sesuatu dan sangat sungguh – sungguh melakukan sesuatu, saya ingin suatu kejelasan apakah saya berada dijalur yang benar ataukah yang saya kerjakan adalah usaha menjaring angin, kesia –siaan belaka.

Tidak bisa diingikari bahwa tiap proses saya melakukan aksi saya pasti menemukan sebuah kepuasan atau kebahagian (karena aksi tersebut adalah kegiatan yang saya pilih untuk menjalani hidup pastilah hal yang menyenangkan bagi saya), tapi disini akar permasalahannya adalah ketika saya memutuskan untuk menjalankan aksi, pasti saya memiliki sebuah tujuan dan mimpi – mimpi yang terbangun dengan sendirinya, dan semakin lama aksi dijalankan sebuah harapan atas mimpi itu akan semakin besar. Saya butuh sebuah pengakuan apakah saya masih pantas untuk melakukan aksi  atau saya harus berhenti dan mecari aksi lain, sebelum terlalu lama dan saya menjadi terlalu lelah untuk berharap.

Muncul pernyataan,  “Mengapa tidak berhenti saja jika hal itu tidak jelas”. Tentu saja setiap orang memiliki kemampuan analisis untuk mengerti kapan harus berhenti. Tapi anehnya, kadang saya selalu tertarik kembali dalam arus harapan itu mungkin karena sifat saya yang belum puas ketika belum ada jawaban “Ya” atau “Tidak”. Selama belum ada kata tidak, masih ada harapan dalam benak saya, tapi faktanya terkadang didunia ini tidak dapat semua di definisikan sebagai “Ya” atau “Tidak”.

3 pemikiran pada “Pengakuan terhadap Aksi

  1. If only everything has precise measure, so that one can see in which extreme he/she is. But then, maybe that’s life’s surprises. Uncertainty is the hallmark of progress, they say.

    • yup! in my opinion, kalau semua hal memiliki ukuran untuk segala standarnya. Betapa menyeramkannya dunia. Semuanya akan terasa membosankan.😀
      anw, Thanks for visiting my blog Mr.Wiseputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s