Ditemani Orang Mati

Natal 2013, Malam itu sudah pukul 12 tengah malam. Saya dan keluarga sedang menuju ke kampung halaman Om saya, tepatnya didaerah kebumen. Kurang lebih sudah 7 jam mobil kami meluncur dikegelapan. Daerah sekitar situ memang masih terbilang sepi, hanya segelintir kendaraan yang terlihat di jalanan apalagi malam – malam. Setiap kendaraan memiliki gap yang cukup jauh, yang paling banyak diantaranya adalah mobil – mobil besar. Mereka saling menyalip, dan beberapa yang tertangkap mata, membuat jantung saya berdegup cukup kencang karena suara dan kecepatannya yang ekstrim.

Sepanjang perjalanan yang terlihat hanya pepohonan rindang di sisi jalan, terkadang di suatu titik jalan hanya terlihat sebidang tanah luas yang disinari cahaya bulan. Terlihat bulan diatas sedang bekerja sama dengan awan menciptakan suasana malam. Kumpulan awan hanya terlihat seperti bayang – bayang hitam, mungkin efek dari hujan besar sore tadi, hujannya sangat deras. Saat hujan dengan brutal menghentak tanah, aku duduk didalam mobil dalam kursi bagian belakang, dari posisi itu aku hanya dapat melihat kerlipan cahaya kendaraan saja, tidak sama sekali badan mobil dapat tertangkap oleh mata saya. Sehabis hujan awan menyembul diberbagai penjuru langit, terkadang awan – awan itu seperti membentuk sesuatu. Beberapa kali saya merasa bahwa bentuk awan itu seperti tangan yang mencengkram bulatnya bulan, tak jarang bulan hanya terlihat sedikit karena tenggelam dalam cengkraman awan.

Malam semakin larut dan tak jarang hanya tinggal tersisa mobil kami dijalan, tanpa kami dapat melihat kendaraan lainnya, pepohonan dikanan dan kiri seperti membentuk terowongan, karena daun dan rantingnya menutupi bagian atas jalan – benar – benar mirip seperti terowongan. Setelah jam lainnya terlewat langit mulai menjadi bersih dan saya dapat melihat bintang – bintang yang bertebaran indah sekali, pemandangan yang sangat jarang dapat saya nikmati ditengah kota.

Keheningan ini, biarkan saya menyebutnya komunikasi tanpa suara. Karena masing – masing elemen dalam jalan itu seperti dapat berkomunikasi dan sadar akan masing – masing kebutuhan.

Ayah saya, memutar lagu – lagu Indonesia lawas, hanya suara penyanyi – penyanyi jaman dulu yang berbicara ditengah angin malam itu. Terkadang ayah berbicara, “penyanyi ini sudah meninggal” atau “penyanyi ini masih ada, tapi sedang sakit sekarang” dan begitu setiap ada penyanyi baru yang berbicara dalam lagunya. Malam ini orang – orang yang telah tiada menemani kami.

Kembali pemikiran tentang kematian terlintas didalam pikiran. Kehidupan manusia seperti seseorang yang sedang melintasi jalan sampai waktunya ia berhenti. Saya termasuk orang yang takut akan kematian, kematian itu berarti tidak ada waktu lagi bagi saya untuk membuat sebuah kisah hidup, hanyalah memori yang tertinggal. Dalam pikiran saya, selalu tertanam “Saya tidak tahu waktu perjalanan ini selesai” karena itu saya merasa setiap harinya harus dilalui semaksimal mungkin.

Sebenarnya selama ini, saya sedang berusaha untuk mengatasi ketakutan, karena ketakutan bukan merupakan hal yang benar. Hal yang paling buruk dari ketakutan adalah ketakutan itu sendiri. Seharusnya kita menyadari, kematian adalah suatu hal yang pasti, tidak seharusnya kita merasa takut. Justru bertemanlah dengan waktu seolah – olah mungkin kita tidak dapat melihat hari esok lagi. Tidak ada waktu untuk menjalani hidup putus asa dan pesimis. Kita telah diberikan anugrah dalam kehidupan yaitu kehidupan itu sendiri.

Kembali lagu – lagu dari mereka yang telah mendahului memecahkan lamunan saya, kali ini saya berpikir jika saya meninggalkan dunia suatu saat akankah saya diingat seperti mereka. Seseorang diingat karena karya mereka. Benarkah? Ya mungkin nama kita akan tetap hidup, tapi jarang kehidupan kita yang tetap hidup. Yang pasti, sesorang akan diingat oleh : orang lain yang menyayangi dirikita semasa kita hidup. Walaupun kita tak dapat disentuh oleh mereka yang mengasihi kita lagi, ingatan kehidupan kita akan selalu bermain dalam luasnya benak pikiran mereka apalagi nama kita, mungkin akan terukir dalam hatinya sampai mereka menyusul kita.

Satu pemikiran pada “Ditemani Orang Mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s